BAB I
PENDAHALUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Piaget bukanlah seorang pendidik dan tidak pernah berpura-pura menjadi
seorang pendidik. Tetapi dia memberi suatu kerangka konseptual yang bagus untuk
memandang masalah-masalah pendidikan, termasuk pembelajaran. Terdapat beberapa
prinsip dalam teori perkembangan kognitif Piaget yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI). Pertama, isu terpenting dalam
pembelajaran adalah komunikasi. Menurut teori Piaget, pikiran anak bukan suatu
kotak yang kosong; sebaliknya anak memiliki sejumlah gagasan tentang dunia
fisik dan alamia, yang bereda dengan gagasan-gagasan orang dewasa. Sebagai
orang tua atau guru harus belajar memahami apa yang dikatakan oleh anak-anak
atau peserta didik dan menanggapi dengan cara bicara yang sama dengan yang
digunakan oleh anak-anak.
Kedua, anak atau peserta didik belajar mengkonstruksi pengetahuanya
sendiri. Ketiga, anak atau peserta didik pada dasarnya adalah suatu makluk yang
berpengetahuan, yang selalu termotivasi
untuk memperoleh pengetahuan atau dengan kata lain anak memiliki keaktifan
belajar. Pembelajarn PAI yang selama ini masih banyak kritikan, kurang optimal
dan kurang memperhatikan perkembangan kognisi peserta didik, maka dalam rangka
pengembangan pembelajaran supaya lebih optimal dapat menggunakan teori
perkembnagan kognitif Piaget sebagai pertimbangan. Oleh karena itu makalah ini
akan membahas tentang “Teori Pembelajaran Menurut Piaget” yang berhubungan
dengan teori perkembangan kognitif Piaget
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana Riwayat Kehidupan Piaget (1896 –1980)?
2.
Bagaimana Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif Jean Piaget?
3.
Bagaimana Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget dalam
Pembelajaran PAI?
C.
TUJUAN PEMBAHASAN
1.
Mengetahui Riwayat Kehidupan Piaget (1896 –1980).
2.
Mengetahui Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif Jean Piaget.
3.
Mengetahui Implementasi Teori Perkembangan Pembelajaran Kognitif Piaget
dalam Pembelajaran PAI.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Riwayat Kehidupan Piaget (1896 –1980)
Jean Piaget sebenarnya adalah seorang biolog, tetapi
sekarang dia dikenal karena karyanya tentang pengembangan kognisi. Banyak yang
berargumen bahwa dialah yang mempunyai andil besar terhadap penciptaan
psikologi kognisi.[1]
Jean Piaget lahir di Neuchatel, Swiss pada tanggal 9
Agustus 1896 dari pasangan Arthur Piaget dan Robercca Jackson. Ayahnya seorang
profesor sastra Abad Tengah yang menggemari sejarah lokal, sedang ibunya,
adalah seorang yang cerdas dan penuh semangat, namun sedikit mengidap neurotik.
Waktu masih kanak-kanak, Piaget sangat tertarik pada ilmu alam. Ia suka
mengamati burung-burung, ikan, dan binatang-binatang di alam bebas. Salah satu
kesukanya adalah mengumpulkan kerangka tulang-tulang burung kecil. Itulah sebabnya dia sangat tertarik
pada pelajaran bilogi di sekolah. Pada usia 10 tahun, dia sudah menerbitkan karangannya yang
pertama yang merupakan hasil
penelitianya tentang burung burung gereja albino dalam majalah ilmu pengetahuan
alam. Dia juga berkesempatan bekerja membantu Mr. Godel direktur Museum of Natural History di Nuechatel. Tugasnya adalah membuat klasifikasi koleksi zoologi di
museum tersebut. Pada waktu itu , ia mulai belajar tentang binatang molusca,
dan menerbitkan karyanya tentang molusca. Karyanya tentang molusca ini kemudian
dikenal oleh hampir semua mahasiswa Eropa. Mereka mengira penulisnya sudah
dewasa, pada hal dia baru berusia 15 tahun.
Karena karyanya yang gemilang itu, dia ditawari suatu
kedudukan sebagai kurator koleksi molusca di museum ilmu pengetahuan alam di
Geneva. Ia menolak tawaran tersebut karena ia harus menyelesaikan sekolah
menengah terlebih dahulu. Ketika remaja, dia mengalami krisis keyakinan. Karena
didorong oleh ibunya yang selalu menekankan ajaran-ajaran religius, dia merasa
bahwa argumen-argumen religius terlalu kekanak- kanakan. Setelah dia
mempelajari filsafat dan logika, dia
kemudian memutuskan untuk mengabdikan hidupnya demi menemukan
penjelasan-penjelasan biologis tentang pengetahuan.
Akhirnya, karena filsafat gagal membantunya dalam
melaksanakan penelitian ini, maka dia beralih ke psikologi. Setelah lulus
sekolah menengah, dia melanjutkan pendidikanya ke University of Neuchatel. Karena
terlalu memkasakan diri belajar dan menulis, dia mengalami sakit parah dan
istirahat selama satu tahun. Setelah kembali ke neuchatel, dia memutuskanuntuk
menuliskan filosofi hidupnya. Peristiwa
ini yang kemudian menjadi titik pusat seluruh karya dan perjalanan hidupnya:”
Di dalam setiap bidang kehidupan (organik, mental, dan soasia), terdapat
”totalitas- totalitas” yang secara kualitatif berbeda dari bagian-bagian yang
membentuk totalitas tersebut.
Totalitas inilah yang menata bagian-bagian tersebut.
Prinsip ini yang menjadi landasan filsafat strukturalisme, yang juga menjdi
dasar pemikiran kalangan psikologi Gestalt, para teoritikus sistem, dan lain
sebagainya. Pada tahun 1916, Piaget lulus sarjana dalam bidang biologi di Universitas
Neuchatel.
Tahun 1918, atau dua tahun setelah dia lulus sarjana,
dia memperoleh gelar doktor di bidang sains
dari Universitas Neuchatel. Selama setahun berikutnya, dia bekerja di
laboratorium psikologi di zurich dan diklinik milik Bleuler. Di situ, dia
berkenalan dengan karya-karya freud, Jung dan pemikir-pemikir lainya. Pada
tahun 1919, dia meninggalkan Zurich pergi ke Paris. Selama dua tahun, dia
tinggal di universitas Sarbon dan mengajar filsafat dan psikologi.
Pada tahun 1920, dia bertemu dengan simon, dan
melakukan penelitian bersama tentang kecerdasan di laboratorium Binet di Paris
dengan tugas mengembangkan tes kecerdasan atau tes penalaran. Dari hasil tes
yang dia lakukan, dia mulai mempertanyakan kenapa anak-anak mulai menalar.
Pada tahun 1921, artikel pertamanya tentang psikologi
kecerdasan dimuat dalam journal de Psychologie. Selain itu, pada tahun
tersebut, dia diangkat sebagai direktur di Institut J.J. Rousseau, Jenewa. Di
Institut ini, dia bersama mahasiswanya mulai mengadakan penelitian tentang
tentang proses penalaran anak-anak sekolah dasar.
Tahun 1923, Piaget menikah dengan Valentine Chatenay
merupakan salah satu mahasiswa. Pada tahun 1925 anak pertamanya lahir perempuan
dan disusul anak keduanya lahir perempuan pada tahun 1927, dan pada tahun 1930
anak ketiganya lahir laki-laki. Ketiga anaknya ini menjadi fokus penelitian
piaget dan istrinya. Hasil penelitian ini kemudian menghasilkan tiga buku psikologi
anak.
Karya-karya Piaget yang merupakan hasil penelitian
dipublikasikan antara tahun 1923-1931. Misalnya : Language and Thought in the
Child yang membicarakan pengguaan bahasa dan pemikiran anak; judgment and
Reasorning in the Child bergulat dengan perubahan pemikiran anak pada masa
kanak-kanak.; The Child”s conseptin of the World memahasa tentang bagaimana
anak memandang dunia sekitar; The Child’s Conseption of Physical Causality memuat
tentang gagasan anak penyebab gejala
alamiah tertentu, seperti gerakan awan, sungai, bayangan, dan lain sebagainya;
The Moral Judgment of the Child membicarakan perkembangan moral dan keputusan
anak.
Pada tahun 1929, Piaget bertugas sebagai direktur
Bureau International Offie del’education, yang bekerjasama dengan UNESCO. Dia
mulai mengadakan penelitian-penelitian dengan bekerjasama dengan A Szeminska,
E.Meyer, dan terutama dengan Barbel Inhelder. Dalam penelitian ini Piaget
berperan melibatkan kaum perempuan dalam psikologi Eksperimental.
Tahun 1940, Piaget menjabat sebagai kepala Psikologi
Eksperimental, direktur laboratorium Psikologi dan Presiden Swiss society of
Psychology . Pada tahun 1942, dia memberi serangkain kuliah di College de
France, yaitu selama pendudukan Nazi di Perancis. Kuliah-kuliah ini kemudian
dibukukan menjadi ; The Psychology of Intelligence.
Pada tahun 1936-1947, Piaget menerima gelar Doktor
Hanoris Cauca. Tahun 1936 menerima gelar Doktor Honoris Cauca dari Harvard
University. Tahun 1946 Menerima gelar Doktor Honoris Cauca dari Sarbon. Tahun
1947, dia menerima gelar Doktor Honoris Cauca dari University of Brazil.
Sementera itu, pada tahun 1949 dan 1950, dia menerbitkan sintesis penelitianya
berjudul: introductin to genetik Epistemology, yang membahas tentang perkembangan
pengetahuan manusia.
Pada tahun 1952, Piaget menjadi profesor di Sarbonne.
Tahun 1955 dia mendirikan International Center For genetic Epistemology yang ia
pimpin sampai akhir hayatnya. Setahun kemudian, dia juga mendirika School of
Sciences di Universitas Jenewa. Jean Piaget meninggal di Jenewa pada tanggal 16
September 1980. Dia dikenang sebagai salah seorang Psikolog paling berpengaruh
pada abad 20.
B.
Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif Jean Piaget
Telah diketahui bersama bahwa peserta didik berkembang
dipengaruhi oleh potensi yang ada pada dirinya dan dikembangkan oleh pengalaman
yang diperoleh dari lingkungan di mana peserta ia berada. Tugas guru atau
pendidik ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik
memperoleh pengalaman yang mampu mengembangkan potensi secara wajar.
Jean Piaget telah banyak membuat kajian dan eksperimen
dalam bidang psikologi pembelajaran kanak-kanak. Beliau berpendapat bahwa
pemikiran kanak-kanak berbeda pada masing-masing tingkatan. Ia membagi
perkembangan pemikiran kanak-kanak menjadi empat tingkatan; tingkatan
sensorimotor, tingkat praopersai, tingkatan operasi konkret, dan tingkatan
operasi formal. Setiap tahap mempunyai tugas kognitif yang harus diselesaikan.
Tingkatan sensori motor (0-2 tahun), pemikiran anak berdasarkan tindakan
indrawinya. Tingkatan Praoperasional (2-7 tahun), pemikiran anak ditandai dengan penggunaan
bahasa serta tanda untuk menggambarkan konsep. Tingkatan Operasi konkret (7-11
tahun) ditandai dengan penggunaan aturan logis yang jelas. Tahap Operasi Formal
dicirikan dengan pemikiran abstrak, hipotesis, deduktif, serta induktif. Secara
skematis, keempat tingkatan itu dapat digambarkan dalam tabel berikut.
Skema Empat Tingkatan Perkembangan Kognitif Piaget.[2]
|
Tahap
|
Umur
|
Ciri pokok
Perkembangan
|
|
Sensorimotor
|
0-2 tahun
|
· Berdasarka tindakan
· Langkah demi langkah
|
|
Praeperasi
|
2-7 tahun
|
· Penggunaan simbul/bahasa
tanda
· Konsep intuitif
|
|
Operasi
Konkret
|
8-11
ahun
|
· Pakai aturan jelas/logis
· Reversibel dan kekekalan
|
|
Operasi Formal
|
11 tahun ke
atas
|
· Hipotesis
· Abstrak
· Deduktif dan induktif
· Logis dan Probabilitas
|
1.
Tahap Sensorimotor
Tahap ini berlangsung dari kelahiran sampai usia 2 tahun, merupakan
tahap pertama Piaget. Pada tahap ini, bayi membangun suatu pemahaman tentang
dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensiris (seperti melihat
dan mendengar) dengan tindakan-tindakan motorik fisik, oleh karena itulah
istilahnya sensorimotor.[3]
Pada permulaan tahap ini, bayi yang baru lahir sedikit lebih banyak dari pada
pola-pola refleks. Pada akhir tahap, anak berusia 2 tahun memiiki pola-pola
sensorimotor yang kompleks dan mulai berpoerasi dengan simbol- simbol primitif.
2.
Tahap Praoperasi
Peringkat ini bermula dari umur 2 tahun hingga 7 tahun,merupakan tahap
kedua Piaget. Pada tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata
dan gambar.[4]
Pada peringkat ini, anak-anak lebih sosial dan menggunakan bahasa serta tanda
untuk menggambarkan sesuatu konsep. Secara jelas, penggunaan bahasa pada masa
ini menggambarkan cara berfikir simbolik.[5]
Disamping dicirikan berfikir simbolik pada masa ini, juga dicirikan dengan
pemikiran intuitif. Pemikiran simbolis,
yaitu pemikiran dengan menggunakan simbol atau tanda, berkembang sewaktu anak
mulai suka menirukan sesuatu. Keaktifan anak menirukan orang tuanya akan memperlancar pemkiran simbolisnya.
Demikian juga kemapuan sesorang anak menirukan berbagai hal yang dialami dalam
hidupnya akan membantu pembentukan pengetahuan simbolisnya. Dengan adanya penggunaan simbol, anak dapat
mengugkapkan dan sesuatu hal yang terjadi, dapat membicarakan macam-macam benda
dalam waktu bersamaan. Pemikiran intuitif adalah persepsi langsung akan dunia
luar tetapi tanpa dinalar terlebih dahulu.[6]
Intuisi merupakan pemikiran imajinal atau sesasi langsung tanpa dipikir lebih
dahulu. Memang pemikiran intuitif ini memiliki kelamahan yaitu anak hanya dapat
lihat satu arah saja, anak belum dapat melihat pluralitas gagasan, tetapi hanya
satu arah saja. Apabila beberapa gagasan digabungkan, pemikiran anak menjadi
kacau. Dengan kata lain pada masa ini anak belum mampu berfikir decentred,
melihat berbagai segi dalam satu kesatuan.
3. Tahap Operasi Konkret
Peringkat ini bermula dari umur 7 tahun hingga 11
tahun, merupakan tahap ketiga Piaget. Pada tahap ini , anak-anak dapat
melakukan operasi, dan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh
pemikiran dapat diterapkan ke dalam contoh-contoh yang spesifik atau konkret.[7]
Operasi itu bersifat reversibel, artnya dapat mengerti dalam dua arah, yaitu
suatu pemikiran yang dapat dikebalikan kepada awalnya lagi. Yang juga sangat
maju dalam tahap ini adalah kemampuan anak mengurutkan dan mengklasifikasi
objek.
Dengan operasi itu anak telah mengembengkan pemikiran
logis yang dapat diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah konkret yang
dihadapi. Pada tahap ini anak juga sudah mampu menganalisis dari berbagai
segi.Meskipun pada tahap ini anak sudah mengembangkan pemikiran logis tetapi
masih terbatas pada suatu yang konkret, belum bersifat abstrak apalagi
hipotetis.
4.
Peringkat Operasi Formal
Peringkat ini bermula daripada umur 11 tahun,
merupakan tahap keempat Piaget. Pada tahap ini anak-anak melampaui dunia nyata,
pengalaman-pengalaman konkret dan
berfikir secara abstrak dan lebih logis.[8]
Mereka memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan reasoning dan logika. Ada
pembebasan pemikiran dari pengalaman langung menuju ke pemikiran yang
berdasarkan proposisi dan hipotesis. Asimilasi dan akomodasi terus berperan
dalam mmbentuk skema yang lebih menyeluruh pada pemikiran remaja. Pada saat
ini, pemikiran remaja dengan pemikran orang dewasa sama secara kualitas, namun
bereda secara kuantitas.[9]
Pengalaman dan skema orang dewasa lebh banyak dibandingkan dengan seorang
remaja.
Pada pemikiran formal, unsur pokok pemikiran adalah
pemikiran deduktif, induktif, dan abstrkatif. Pemikiran deduktif, mengambil
kesimpulan khusus dari pengalaman yang umum. Pemikiran induktif, mengambil
kesimpulan umum dari pengalaman-pengalaman yang khusus, dan pemikiran
abstraktif tidak langsung dari objek. Pada tahap perkembangan ini, remaja sudah
dapat memahami konsep proposisi dengan baik, menggunakan kombinasi dalam
pemikiranya, dapat menggabungkan dua refrensi pemikiran, sudah mengerti
probabilitas dengan unsur yang menyertainya serta permutasinya.
C.
Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget dalam Pembelajaran PAI
Meskipun Piaget tidak banyak menulis tentang
pendidikan, namun dia memberikan beberapa rekomendasi tentang ini. Pada
esensinya, seluruh filsafat pendidikannaya mirip dengan Rousseau dan
montessory.[10]
Implikasi –implikasi terhadap pembelajaran PAI adalah menyangkut karakteristik
pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), pembelajaran berpusat pada peserta didik,
metode pembelajaran dikembangkan berdasarkan keaktifan peserta didik dan
pendidik berperan sebagai fasilitator. Hal tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut.
1.
Karakteristik Pelajaran Pendidikan Agama Islam
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu
yang membedakan dengan plajaran yang lain. Demikian halnya, mata pelajaran
pendidikan agama Islam memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.
Pendidikan agama Islam merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari
ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam.
b.
Dilihat dari segi muatanya, pendidikan agama Islam merupakan mata
pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan
mata pelajaran yang lain yang betujuan untuk meningkatkan potensi spiritual dan
membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Karena itulah semua pelajaran yang
memiliki tujuan tersebut harus seiring dan sejalan dengan yang ingin dicapai
oleh Pendidikan Agama Islam (PAI).
c.
Pendidikan agama Islam adalah mata pelajaran yang tidak hanya
mengantarkan peserta didik dapat menguasai berbagai kajian keislaman, tetapi
pendidikan agama Islam lebih menekankan bagaimana peserta didik mampu menguasai
kajian keislaman tersebut sekaligus dapat mengamalkan dalam kehidupan
sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, pendidikan agama
Islam tidak hanya menekankan aspek kognitif saja, tetapi lebih penting pada
aspek afektif dan psikomotoriknya.
d.
Secara umum mata pelajaran pendidikan agama Islam didasarkan pada
ketentuan-ketentuan yang ada pada dua sumber pkok Islam, yaitu Al-Qur’an dan
Sunnah. Dengan metode ijtihat para ulama mengembangkan prinsip-prinsip
Pendidikan agama Islam tersebut dengan lebih rinci dan detail dalam bentuk fiqh
dan hasil-hasil ijtihat lainya.
e.
Prinsip-prinsip dasar pendidikan agama Islam tertuang dalam tiga
kerangka dasar Islam, yaitu akidah, syariah dan akhlak. Akidah merupakan
penjabaran dari konsep iman, syariah merupakan menabaran dari konsep Islam,
syariah mempunyai dua dimensi pokok, yaitu ibadah dan muamalah, dan akhlak
merupakan penjabaran dari konsep Ihsan. Dan ketiga prinsip dasar itulah
berkembang berbagai kajian keislaman.
f.
Tujuan akhir dari mata pelajaran agama Islam di setiap jenjang
pendidikan dirumuskan dalam berbagai redaksi, tetapi intinya adalah
terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia.
g.
Karena itulah maka Pendidikan agama Islam mrupakan mata pelajaran wajib
yang harus diikuti oleh setiap peserta didik, terutama yang beragama Islam,
atau yang beragama lain yang didasari dengan kesadaran yang tulus dalam
mengikutinya.[11]
2.
Berpusat Pada Peserta Didik
Menurut Jean Piaget, pengetahuan itu dibentuk sendiri
oleh peserta didik dalam merespon lingkungan atau objek yang sedang
dipelajarinya. Oleh karena itu, kegiatan peserta didik dalam membentuk
kegiatanya sendiri menjadi suatu yang sangat penting dalam sistem Piaget.
Proses pembelajaran harus membantu dan memungkinkan peserta didik aktif
mengkonstruksi pengetahuannya. Tekanannya lebih pada keaktifan peserta didik,
bukan guru yang aktif. Piaget membedakan
tiga macam bentuk pengetahuan, yaitu pengetahuan fisis, matematis-
logis, dan sosial.[12]
Menurut Piaget, seorang anak mempunyai cara berfikir
dan pendekatan yang berbeda dengan orang dewasa dalam melihat dan mempelajari
realitas. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran, penekanan harus pada
pemikiran peserta didik, bukan pada pemikiran pendidik.
Dalam hal yang demikian, pendidik harus memahami cara
berfikir peserta didik, pengalaman peserta didik, dan bagaimana peserta didik
mendekati suatu persoalan.[13]
Pendidik harus menyiapkan dan memberikan
bahan sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik. Bagi Piaget, belajar
bebenarnya bukan suatu yang diturunkan oleh guru, melainkan sesuatu yang
berasal dari dalam diri anak sendiri. Belajar merupakan sebuah proses
penyelidikan dan penemuan spontan.[14]Berkaitan
dengan pembelajaran agama, guru dituntut mampu menyesuaikan peserta didiknya,
bukan peserta didiknya yang harus menyesuaikan guru. Artinya guru dalam pembelajaran
dituntut menyesuaikan dengan tahap perkembangan peserta didik, yang merupakan
sebuah self-evident. Tetapi sayangnya, yang demikian ini tidaklah selalu mudah dicapai.
3.
Metode Pembelajaran
Telah dijelaskan bahwa bagi Piaget, proses belajar
harus membantu dan memungkinkan peserta didik aktif mengkonstruksi
pengetahuanya sendiri. Kegiatan belajar adalah menekankan pentingnya kegiatan
peserta didik aktif dalam mengkonsruksi pengetahuanya. Hanya dengan keaktifan
mengolah bahan, aktif bertanya, aktif mencrna bahan secara kritis , peserta
didik akan dapat menguasai bahan secara baik. Oleh karena itu , kegiatan aktif
dalam pembelajaran perlu ditekankan. Bahkan kegiatan peserta didik secara
pribadi dalam mengolah bahan, membuat kesimpulan, membuat rumusan dengan
kata-kata sendiri adalah suatu kegiatan yang diperlukan peseta didik dalam
membangun pengetahuanya. Tugas guru adalah menyediakan alat-alat atau bahan dan
mendorong keaktifan peserta didik.
Metode pembelajaran seperti ceramah, demonstrasi,
presentasi audio-visual, pengajaran dengan menggunakan mesin dan peralatan,
pembelajaran terprogram, bukanlah metode yang dikembangkan oleh Piaget. Piaget
mengembangkan metode pembelajaran discovery yang aktif dalam lingkungan kelas.[15]
Kognisi tumbuh dan berkembang melalui proses asimilasi dan akomodasi. Dengan
demikian, pengalaman harus direncanakan untuk membuka kesempatan untuk
melakukan asimilasi dan akomodasi. Peserta didik harus diberi kesepatan yang
seluas-luasnya untuk mencari, memanipulasi, melakukan percobaan, bertanya, dan
mencari jawaban sendiri terhadap berbagai pertanyaan yang muncul. Namun
demikian, bukan berarti peserta didik dapat melakukan apa saja yang
diinginkan. Dengan demikian di dalam
kelas, guru seharusnya mampu mengukur kemampuan, kelebihan, dan
kekurangan-kekuangan yang dimiliki oleh peserta didik. Pembelajaran (agama)
harus dirancang untuk memfasilitasi keberbedaan peserta didik dan dapat
memberikan kesempatan yang luas membangun komunikasi dengan peseta didik yang
lain, untuk berdebat, dan saling menyanggah terhadap isu-isu aktual yang
diberikan kepada peserta didik.
4.
Peran guru
Piaget menekankan bahawa belajar terletak apada
keaktifan peserta didik. Untuk membiasakan diri mengajar dengan pendekatan yang
mengaktifkan siswa, seseorang guru perlu memiliki dua ketrampilan dasar yakni:
menemukan sumber belajar dan memilih kegiatan belajar.[16]
Paduan kedua ketrampilan tersebut akan membuat guru terampil menciptakan dan
memilih kegiatan belajar yang mengaktifkan dan kontektual. Sumber belajar
adalah segala sesuatu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam proses
belajar untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap yang sedang
dipelajari. Dalam pengembangan kegiatan belajar di kelas, sumber belajar yang
terpenting adalah sumber belajar yang berhubungan dengan kompetensi apa.
Kegiatan belajar merupakan rumusan yang menjelaskan
apa yang dilakukan oleh siswa dalam belajar. Dalam hal ini Pieget menekankan
kegiatan aktif dalam belajar. Oleh karena itu guru berperan sebagai fasilitator
pengetahuan, mampu memberikan semangat belajar, membina dan mengarahkan peserta
didik. Belajar tidak menekankan ”benar” atau ”salah”, melainkan bagaimana
memfasilitasi peserta didik agar dapat mengambil pelajaran dari kesalahan yang
diperbuat, belajar tidak menekankan pada ”hasil” tetapi menekankan pada
”proses”[17],
yaitu proses mengonstruksi pengetahuan. Pembelajaran (agama) lebih bermakna
dengan memberi peluang kepada peserta didik untuk mencari sendiri dari pada
harus mendengarkan lebih banyak dari hasil ceramah dari guru. Guru harus mampu
menghadirkan materi pelajaran yang membawa peserta didik kepada suatu kesadaran
untuk mencari pengetahuan baru. Dalam pembelajaran aktif guru harus memiliki
keyakinan bahwa peserta didik akan mampu belajar sendiri.
D. Analisis
Teori kognitif dari Jean Piaget ini masih tetap
diperbincangkan dan diacu dalam bidang pendidikan. Teori ini mulai banyak
dibicarakan lagi kira-kira permulaan tahun 1960-an. Pengertian kognisi
sebenarnya meliputi aspek-aspek struktur intelek yang digunakan untuk
mengetahui sesuatu. Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif bukan hanya
hasil kematangan organisme, bukan pula pengaruh lingkungan semata, melainkan
hasil interaksi diantara keduanya.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat
aspek, yaitu 1) kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf; 2)
pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara orgnisme dengan dunianya; 3)
interaksi social, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya
dengan lingkungan social, dan 4) ekullibrasi, yaitu adanya kemampuan atau
system mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempau mempertahankan
keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
System yang mengatur dari dalam mempunyai dua faktor,
yaitu skema dan adaptasi. Skema berhubungan dengan pola tingkah laku yang
teratur yang diperhatikan oleh organisma yang merupakan akumulasi dari tingkah
laku yang sederhana hingga yang kompleks. Sedangkan adaptasi adalah fungsi
penyesuaian terhadap lingkungan yang terdiri atas proses asimilasi dan
akomodasi.
Bagi
guru matematika, teori Piaget jelas sangat relevan, karena dengan menggunakan
teori ini, guru dapat mengetahui adanya tahap-tahap perkembangan tertentu pada
kemampuan berpikir anak di kelasnya. Dengan demikian guru bisa memberikan perlakuan
yang tepat bagi siswanya, misalnya dalam memilih cara penyampaian materi bagi
siswa, penyediaan alat-alat peraga dan sebagainya, sesuai dengan tahap
perkembangan kemampuan berpikir yang dimiliki oleh siswa masing-masing. Guru
perlu mencermati apakah symbol-simbol matematika yang digunakan guru dalam
mengajar cukup mudah dipahami siswa, dengan mengingat tingkat kemampuan
berpikir yang dimiliki oleh masing-masing siswa.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Piaget memang tidak banyak menulis tentang pendidikan,
tetapi dia memberikan rekomendasi
tentang masalah ini. Bagi Piaget, belajar adalah keaktifan peserta didik,
sesuai dengan tahapperkembangan kognisinya. Pendidikan Islam adalah momot
nilai, yang terinternalisasi dalam diri peserta didik melalui belajar dalam
proses pembelajaran. Sehingga tampilan peserta didik mencerminkan kepribadian
yang memiliki kesalehan individual dan sosial. Dalam mewujudkan kepribadian
tersebut, pembelajaran agama seyogyanya dapat mempertimbangkan teori
perkembangan kognisi Piaget. Sehingga pemilihan materi, kegiatan belajar
peserta didik, serta peran guru agama dapat mendorong dan menciptakan pesertan
didik aktif dalam belajar sehingga peserta bergairah dan meyenangkan dalam belajar
agama, karena kontektual dan berguna bagi peserta didik.
Perkembangan
kognitif adalah tahap-tahap perkembangan kognitif manusia mulai dari usia
anak-anak sampai dewasa; mulai dari proses-proses berpikir secara konkret
sampai dengan yang lebih tinggi yaitu konsep-konsep anstrak dan logis.
Jean
Piaget seorang pakar yang banyak melakukan penelitian tentang perkembangan
kemampuan kognitif manusia, mengemukakan dalam teorinya bahwa kemampuan
kognitif manusia terdiri atas 4. Keempat tahap perkembangan itu digambarkan
dalam teori Piaget sebagai berikut:
1.
Tahap sensorimotor: umur 0 – 2 tahun (anak mengalami dunianya melalui
gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek)
2.
Tahap pra-operasional: umur 2 – 7 tahun (Ciri pokok perkembangannya
adalah penggunaan symbol/bahasa tanda dan konsep intuitif)
3.
Tahap operasional konkret: umur 7 – 11/12 tahun (anak mulai berpikir
secara logis tentang kejadian-kejadian konkret)
4.
Tahap operasional formal: umur 11/12 ke atas. (Ciri pokok
perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, deduktif dan induktif serta logis
dan probabilitas )
[1] C.George Boeree, Sejarah
psikologi, Penterjemah, Abdul Qodir Shaleh, 2007, Yogyakata: prismasophi, h. 479.
[3] John W.
Santrock, 2002. life-Span devepoment,Jilid 1, Penterjemah Ahmad Chusairi, dkk, Jakarta:
Erlangga,h. 44.
[10] William Crain, 2007, Teori
perkembangan konsep dan aplikasi, edisi ketiga, penterjemahYudi Santosa,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 208.
[11] Ichsan, 2007.”Prinsip Pembelajaran Tuntas
mata pelajaran PAI”, JurnalPendidikan Agama Islam, Vol.IV,No. 1, 2007,
Yogyakarta: Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga. hal. 42-42
[16] Nasar, 2006.Merancang pembelajaran aktif dan
kontekstual berdasarkan “SISKO” 2006, Jakrta: Gerasindo, h. 35.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar